Sabtu, 02 Mei 2015

Lepaskan dan Dapatkan


Lepaskan dan Dapatkan
Syukur  Khawatir  Ketakutan  Taat

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.

Istri Lot menoleh ke belakang, karena dia merasa sayang dengan segala sesuatu yang mereka tinggalkan, karena tanah Sodom dan Gomorah, tanah yang begitu indah (Kej 12:10) dan dia mendapatkan upahnya menjadi tiang garam.

Keterikatan kita terhadap apa yang kita miliki didalam dunia ini dapat menjadi boomerang terhadap hubungan kita dengan Tuhan, seolah2 kita tidak dapat hidup jika kita tidak memiliki atau mendapatkannya sehinga kita menjadi khawatir, takut dan kita mulai membayangkan hal-hal yang menurut pikiran kita bisa terjadi atau memikirkan segala cara untuk mendapatkannya. Inilah pekerjaan Iblis yang membisikan kata didalam hati kita yang membuat diri kita terjatuh jika kita terus menanggapinya, Iblis adalah pendakwa dia siap mendakwa kita siang dan malam (Why 12:10), dia mencuri damai sejahtera dan suka cita yang ada didalam diri kita. Dan inilah tandanya jika didalam hati kita tidak ada damai sejahtera dan sukacita, berarti bahwa kita sudah mulai dimasuki oleh kuasa kegelapan dan pada saat itu kita harus datang kepada Tuhan didalam doa.

Sikap kita yang terus menanggapi kekhawatiran dan ketakutan itu dikarenakan kita tidak mempercayai karya Tuhan didalam hidup kita, iblis selalu berusaha menggagalkan rencana Tuhan didalam diri kita yaitu dengan memperlihatkan segala sesuatu yang berasal dari dosa adalah manis rasanya sehingga kita masuk kedalamnya karena dia adalah bapa pendusta (Yoh 8:44). Oleh karena itu dalam segala perkara ucapkan syukur, puji-pujian, doa didalam roh dan kebenaran, itulah yang dikehendaki Tuhan, sehingga kuasa kegelapan tidak menguasai kita, namun kita dibuat semakin peka terhadap dosa-dosa kita. 

Kita dapat melihat perilaku Ayub yang mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang terjadi didalam hidupnya, walaupun keadaanya berbalik 180 derajat dari yang memiliki menjadi tidak memiliki apapun namun Ayub tetap memuji Tuhan (Ayub 1:20-21).

Jadi jika Ayub melepaskan segala yang ia miliki dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan sehingga dia tetap mengucapkan syukur atas malapetaka yang menimpa dirinya dan keluarganya. Apakah kita sudah mengucapkan syukur pada saat kita mendapatkan sesuatu berkat kelimpahan dari Tuhan? Atau kita pikir bahwa semua itu datang secara otomatis, atau kita pikir semua itu karena usaha dan kerja kita?

Kita boleh bekerja sekuat tenaga, kita boleh bekerja keras banting tulang namun jika Tuhan tidak menghendaki maka semuanya akan berujung pada kehampaan, tidak ada damai sejahtera didalam diri kita.

Kelepasan didalam ketaatan dapat kita liat dari diri Abraham. Abraham yang dengan setia menantikan apa yang dijanjikan Tuhan bahwa ia akan memiliki anak. Tuhan sudah berikan pada saat ia berumur seratus tahun (Kej 21:5). Tapi pada satu saat Tuhan meminta Ishak untuk dikorbankan (Kej 22:1-12). Kita bisa bayangkan betapa sayangnya kita kepada anak kita, apalagi Abraham yang dimasa tuanya dia dapatkan anak itu, namun Tuhan memintanya untuk dikorbankan. Tapi Abraham taat dan memberikannya untuk menjadi korban bakaran bagi Tuhan, dia lepaskan segala ikatan karena Abraham percaya Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan walaupun dalam perjalanannya kita rasakan pahit dan tidak dapat kita mengerti dengan akal dan pikiran kita. Namun dari iman itulah Tuhan berkenan memenuhi segala janji-janjinya.

Abraham mengasihi Allahnya lebih dari segalanya yang ia miliki, bahkan anaknya sendiri yang sudah ia nanti-nantikan berpuluh-puluh tahun. Pada saat ia melepaskan segala ikatan hanya bagi Allah, justru Allah memberikan segala-galanya bagi Abraham dan menikmati segala janji-janji Tuhan (Kej 22:15-18). Begitupun pada Ayub, dia kehilangan segala-galanya namun Ayub tetap setia dengan mengatakan kebenaran Tuhan, dihadapan teman-temannya yang mencela Ayub dan dihadapan Tuhan, sehingga ia mendapatkan kembali segala kepunyaannya dahulu bahkan berlipat ganda (Ayub 42:7 & 10).

Sering kali didalam hidup kita orang-orang disekitar kita membuat kita menjauh dari Tuhan. Mulai dari obrolan, gossip yang akan membawa kita menjadi “hakim-hakim”, dan apa yang kita mau itu yang kita kejar, sementara kita menerima berkat kita lupa bahwa semua itu adalah karya camputangan Tuhan didalam hodup kita, kita terbawa arus dunia seperti istri Lot, tidak ada sukacita, damai sejahtera, tapi kita mengejar apa yang kita mau, kita mempertahankan apa yang menurut kita berharga dan tidak menyerahkan seutuhnya pada karya Roh kudus yaitu penolong bagi kita (Yoh 14:16-17). Hal ini kerapkali tidak kita sadari sehingga kita akan terus berusaha dengan kekuatan kita yang terbatas dan pada suatu titik kita tidak akan lagi mampu untuk melakukannya. Inilah sumber keputusasaan, kekhawatiran, ketakutan, gelisah, gentar karena kita tidak menanggapi karya Roh Kebenaran didalam diri kita. Kita harus menanggapi karya Roh Kudus didalam hidup kita yaitu dengan melepaskan segala keinginan kita dan membiarkan diri kita dikuasai dan dipimpinNYA, sehingga kita dapat menikmati segala janji Tuhan dan DIA tidak akan pernah mengingkarinya selama kita taat kepada firmanNYA dan menghidupinya.

Damai sejahtera dan suka cita dari Kristus Tuhan selalu menyertai kita sekalian! AMIN.

sumber: 
http://www.airhidup.com/article/lepaskan-dan-dapatkan

Jumat, 01 Mei 2015

Kisah Kasih

Kisah Kasih

  •                                 Kasih
Pada suatu hari saya bangun pagi-pagi untuk menyaksikan matahari terbit. Ah, keindahan ciptaan Tuhan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sambil mengagumi, saya memuliakan Tuhan untuk karyaNya yang agung. Sewaktu saya duduk disitu, saya merasakan kehadiran Tuhan bersama saya.
Ia bertanya kepada saya: "Apakah engkau mencintai Aku?" Saya menjawab: "Tentu saja, Tuhan! Engkau adalah Allah dan Penyelamatku!" Lalu Ia bertanya: "Jika tubuhmu cacat, apakah engkau masih mau mencintai Aku?" Saya bingung. Saya memandang ke lengan, tungkai dan bagian tubuhku yang lain, dan heran berapa banyak hal yang saya anggap sudah biasa, akan tak dapat saya lakukan. Dan saya menjawab: "Akan sangat berat, Tuhan, tetapi aku akan tetap mencintai Engkau" 
Kemudian Tuhan berkata: "Jika engkau buta, apakah engkau masih mau mencintai ciptaanKu?" Bagaimana mungkin saya dapat mencintai sesuatu yang tidak dapat saya lihat? Lalu saya teringat akan begitu banyak orang buta didunia dan bagaimana mereka masih tetap mencintai Tuhan dan ciptaanNya. Karena itu saya menjawab: "Sukar untuk memikirkan hal itu, tetapi aku akan tetap mencintai Engkau".
Tuhan kemudian bertanya kepada saya: Jika engkau tuli, apakah engkau masih mau mendengarkan SabdaKu?" Bagaimana mungkin saya mendengarkan sesuatu bila tuli? Lalu saya mengerti. Mendengarkan sabda Tuhan bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati. Saya menjawab: "Akan sulit sekali, Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan SabdaMu"
Kemudian Tuhan bertanya: "Jika engkau bisu, apakah engkau masih mau memuliakan NamaKu?" Bagaimana mungkin saya memuji tanpa suara? lalu saya terpikir: Tuhan menghendaki kita bernyanyi dari lubuk hati, bagaimanapun bunyinya. Dan memuliakan Tuhan tidak harus selalu dengan nyanyian; saat kita dianiayapun dapat kita ucapkan kata-kata pujian.
Jadi saya menjawab: "Biarpun aku bisu, aku akan tetap memuliakan NamaMu"
Lalu Tuhan bertanya: "Apakah engkau sungguh-sungguh mecintai Aku?" Dengan berani dan tanpa ragu saya menjawab tegas: "Ya. Tuhan! Aku mencintai Engkau, sebab Engkaulah satu-satunya Allah yang benar!" Saya kira saya menjawab dengan baik, tetapi...... Tuhan bertanya: "LALU MENGAPA ENGKAU BERBUAT DOSA?" Saya menjawab: "Sebab aku seorang manusia. Aku tidak sempurna" LALU MENGAPA PADA WAKTU PADA WAKTU TENTERAM ENGKAU MENYIMPANG PALING JAUH? MENGAPA HANYA BILA SUSAH ENGKAU BERDOA PALING SUNGGUH-SUNGGUH?"
"APAKAH ENGKAU SUNGGUH-SUNGGUH MENCINTAI AKU?" Saya tidak dapat menjawab. Bagaimana mungkin saya dapat? Saya malu tak terhingga. Saya tidak punya alasan. Apa yang dapat saya katakan terhadap ini? Setelah hatiku menjerit dan air mata mengalir, saya berkata: "Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku tak pantas menjadi anakMu". Tuhan menjawab: "Itulah rahmatKu, anakKu" Saya bertanya: "Lantas mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku. Mengapa Engkau begitu mencintai aku?"
Tuhan menjawab: "Karena engkau adalah ciptaanKu. Engkau adalah anakKu. Aku tak pernah akan meninggalkanmu" Bila engkau berteriak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu. Bila engkau sedih, Aku akan membesarkan hatimu. Bila engkau jatuh, Aku akan mengangkatmu. Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman, dan Aku akan mencintai engkau selama-lamanya"
Saya bertanya kepada Tuhan: "Seberapa besar kasihMu padaku?" Tuhan membentangkan kedua tanganNya, dan saya melihat bekas-bekas tembusan paku.
sumber:
http://www.airhidup.com/article/kisah-kasih

Rabu, 29 April 2015

Tak Seorang Pun Tahu

Tak Seorang Pun Tahu

Albert seorang anak berumur 10 tahun datang menghampiri ibu nya dan bertanya, kalau dia bisa mempergunakan laptop Ibunya. Dengan perjanjian dia hanya bisa menggunakan laptop itu untuk bermain game selama 1 jam.
Dan Albert kecil mulai menggunakan laptop itu dengan memulai game kesukaannya. Setelah hampir 30 menit bermain, dia mulai mulai merasa bosan dengan permaianan game tersebut, dan dia mulai berpikir apa yang dapat dia lakukan dengan 30 menit yang sisa, akhirnya dia mulai melihat sekeliling nya jangan jangan Ibu nya mungkin berada disekitarnya, setelah menyadari bahwa dia hanya seorang diri maka Albert mulai mengeserkan jari jari nya kearah mouse dan mulai mengakses ke halaman yang lain. Dan akhirnya dia menemukan satu halaman site yang keliatannya menarik dan dengan waktu yang sisa dia menghabiskannya waktu nya di site tersebut. Tetapi tanpa di sadari nya 5 menit sebelum berakhir waktu yang diberikan Ibu nya telah berada disamping nya dan melihat apa yang dia lakukan.
Setalah selesai waktu yang diberikan kepada nya, akhirnya sang Ibu dengan tegas berkata supaya dia memberhentikan permainan itu dengan alasan bahwa waktu nya telah habis dan dengan keras Ibu nya memberitahukan kepada dia bahwa dia tidak akan pernah bisa menggunakan laptop Ibunya lagi, karena dia telah melanggar peraturan yang sudah di tetapkan.
Cerita ini sangat sederhana dan mungkin keliatan biasa. Tetapi cerita ini bagaikani kehidupan kita, yang layaknya didalam menjalani kehidupan ini seperti nya biasa, dan seperti juga nya tidak ada yang melihat dan memantau apa yang kita perbuat sehingga hukum hukum Tuhan atau perintah perintah Tuhan terabaikan didalam kehidupan kita. Dan tanpa kita sadari arah kehidupan kita sudah mulai menggeser dengan apa yang namanya Kehidupan yang dipimpin oleh diri kita sendiri. Pergaulan, pekerjaan, uang, karir, keluarga, cinta dan begitu banyak hal hal lainnya yang lebih menarik perhatian kita dari pada sang empunya kita: TUHAN.
Tetapi ingat, suatu hari di akhir dari kehidupan kita, DIA sang empunya kita akan ada disana dan menjadi saksi apakah kehidupan kita telah berjalan semestinya dengan jalan jalan NYA atau kita mengakhirinya dengan mengikuti kehendak kita sendiri.
Teman, hidup ini pilihan, keputusan kita hari ini akan menentukan siapa kita di kemudian hari. Dan Keputusan kita untuk hidup benar saat ini akan menentukan akhir dari kehidupan kita.
Tak seorang pun tau kapan jam kehidupan itu akan berhenti, mungkin itu 10 menit di depan kita ataupun besok, lusa..tak seorang pun dapat merekahnya...!! Tapi satu hal siap atau tidak, mau atau tidak mau pada saatnya kita akan mempertanggung jawabkan kehidupan kita dihadapan NYA.

sumber:
http://www.airhidup.com/article/tak-seorang-pun-tahu

Selasa, 28 April 2015

Kemenangan untuk Kristus

Kemenangan Untuk Kristus
Oleh : Peter Purwanegara


Untuk kedua kalinya Maria menghela nafas sambil memandang foto Surya, suaminya yang telah meninggal dunia. Dada Maria masih terasa sesak. Bukan saja karena mengingat Surya yang telah tiada tetapi dia juga teringat perkataan Joshua, putranya tadi siang, sewaktu pulang dari sekolah. Ma, saya butuh uang lima ratus ribu untuk biaya kostum pertandingan 17 Agustus nanti. Maria hanya tidak menyangka bahwa pemberitahuan Joshua begitu tiba-tiba rasanya. Dia mengingat bahwa kalau tidak salah empat bulan yang lalu Joshua meminta uang satu juta untuk membeli sepatu sepak bola.

Maria teringat perkataan almarhum suaminya. Didik Joshua dengan disiplin dan penuhi kebutuhannya selama dia memerlukan. Surya seorang penggemar sepak bola, dan tidak jarang Surya membawa Joshua menonton pertandingan sepak bola. Dari tingkat erte erwe sampai tingkat internasional. Kegemaran Surya yang menonton sepak bola menular kepada Joshua, bahkan membuat Joshua mempunyai hobby bermain sepak bola. Dan yang terlebih jauh lagi, Joshua ingin menjadi pemain sepak bola.

Tujuh tahun yang lalu ketika Joshua masih berumur sepuluh tahun. Dia menyatakan cita-citanya untuk menjadi seorang pemain sepak bola. Cita-cita yang suram, menurut Maria. Dan lagi pula itu cita-cita yang memalukan. Teman-teman sebaya Joshua tidak ada yang mempunyai keinginan menjadi pemain sepak bola. Apalagi teman-teman bisnis Surya, tidak ada anaknya yang ingin menjadi pemain sepak bola.

Saat itu Surya sudah di vonis mengidap kanker hati dan dia harus dirawat di rumah sakit. Satu rumah harus dijual cepat untuk menutup biaya rawat inap Surya di rumah sakit. Ketika Maria mengatakan keinginan Joshua tersebut kepada Surya, jawaban yang didapat bukan seperti yang diharapkan Maria. Surya malah menyetujui cita-cita Joshua. Maria hanya menangis dalam hatinya karena kesal. Dia tidak dapat membantah Surya yang sedang sakit. Joshua masih saja keras kepala untuk ingin menjadi pemain sepakbola. Maria hanya bisa mengeluh kepada Tuhan. Dan entah apa yang harus dia perbuat.

Satu sepeda motor bebek harus dijual untuk menutup biaya kostum dan latihan Joshua dalam mengikuti program dari sebuah klub sepak bola. Setelah berdoa kepada Tuhan meminta petunjukNya dan  mendengar beberapa saran dari anggota sanak keluarganya. Maria pun masih dapat berbesar hati. Siapa tahu cita-cita Joshua tersebut hanya emosi. Dan dia masih berumur sepuluh tahun. Lima tahun lagi mungkin saja cita-citanya akan berganti menjadi seorang dokter atau pilot.

Tetapi apa yang terjadi. Harapan Maria semakin memudar. Karena semakin hari Joshua semakin cinta pada olahraga yang paling populer di dunia itu. Kini Maria yang harus menjadi tulang punggung keluarga dengan mencari nafkah untuk menyambung kehidupan. Dan terlebih lagi apa yang tidak diharapkan oleh Maria terjadi. Surya meninggal dunia.

Kini perhatian Maria hanya kepada Joshua. Selain sekolahnya yang cukup membanggakan. Maria juga mengucap syukur kepada Tuhan bahwa Joshua adalah anak Tuhan yang taat dan setia. Hal ini yang memacu Maria untuk tetap bekerja keras dan memenuhi kebutuhan Joshua.

Dua tahun berlalu, prestasi sepak bola Joshua semakin cemerlang ditambah dengan bakat yang dipunyai, Joshua dipanggil untuk mewakili klub sepak bola pra-remaja di daerahnya. Dan tiga tahun kemudian Joshua dipanggil untuk mengikuti pusat pelatihan sepak bola remaja nasional.

Menjelang tiga bulan Joshua mengikuti pendidikan pelatihan sepakbola remaja nasional, Maria mendapat surat panggilan dari pelatih Joshua, pak Leon.

Ibu tahu, mengapa saya memanggil ibu hari ini? tanya pak Leon. Maria hanya menggeleng menjawab pertanyaan pelatih Joshua tersebut.

Joshua berada dalam satu tim sepak bola yang diharapkan kerjasamanya dengan rekannya yang lain. Dan dia diharapkan tidak menonjolkan diri atau membuat tindakan yang tidak seharusnya dia lakukan dalam timnya. Maria hanya bengong mendengar pidato pak Leon yang tidak diketahui ujung pangkalnya.

Maaf pak, saya tidak mengerti apa maksud bapak. Bisa dijelaskan secara langsung apa yang terjadi dengan Joshua?

Begini bu Maria, Joshua selama dalam pendidikan pusat pelatihan ini, dia selalu berdoa sebelum dan sesudah latihan. Saya tidak ingin Joshua pamer atau memperlihatkan kepercayaanya dihadapan temannya. Hal itu menganggu konsentrasi rekannya dalam satu tim. Tindakannya selalu menjadikan pembicaraan rekan lainnya. Saya ingin ibu memberitahu Joshua untuk tidak melanjutkan perbuatannya tersebut.

Tapi apa itu salah pak? Dia hanya melakukan perbuatan imannya yang diyakini dalam agamanya. Dan saya rasa hal itu tidak akan menganggu yang lain. potong Maria.

Saya hanya memberitahu hal ini sekali saja. Jika Joshua masih melanjutkan perbuatannya. Saya kuatir namanya akan diganti oleh penjaga gawang yang lain. Kata pak Leon denga tenang. Tetapi hal itu bagai suatu ancaman berat bagi Maria. Maria tidak sampai hati memberitahu hal itu kepada Joshua. Dia tahu bahwa Joshua tidak bersalah. Dan kini pak Leon hendak mengeluarkan Joshua hanya karena Joshua berdoa dihadapan teman-temannya.

Panas juga hati Maria. Rasanya tidak terima. Tetapi dia tahu, apa sih yang dia dapat perbuat? Tuhan, apakah ini akhir dari perjuangan Joshua dalam bidang olahraga yang dicintainya? Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Joshua adalah anakMu. Dia adalah milikMu. Aku tahu Kau tak kan membiarkan anakMu dipermalukan. Maria menggigit bibirnya yang basah oleh air mata. Dia hanya bisa berserah.

Apakah dia akan memberitahu Joshua untuk melarangnya berdoa didepan umum? Maria tahu Joshua bukan seperti orang Farisi yang ingin memamerkan dirinya kepada teman-temannya sebagai seorang Kristen yang saleh. Itu bukan sifat Joshua. Maria juga tahu bahwa Joshua berdoa untuk mengucap syukur dan memohon penyertaan Tuhan selama dia bertanding serta untuk dapat memuliakan nama Tuhan. Maria teringat bahwa dia sendirilah yang sering mengingatkan Joshua untuk tetap berdoa mengucap syukur kepada Tuhan dimana pun tempatnya. Tidak peduli di restoran atau di tempat pesta. Apakah kini dia akan melarang Joshua untuk berdoa di hadapan teman-temanya? Tidak! Maria memutuskan tidak akan memberitahu tentang teguran pak Leon tersebut kepada Joshua.

Dan anehnya terguran pelatih tim sepakbola nasional remaja tersebut tidak pernah terdengar kembali oleh telinga Maria. Meski dalam hati Maria menyatakan keheranannya tetapi dia percaya bahwa Tuhan ikut campur dalam perkara itu. Entah apa yang terjadi pada diri pak Leon. Joshua masih tetap dipercaya sebagai penjaga gawang utama dari tim sepakbola remaja nasional.

Ma, tim sepakbola kami akan mengikuti kejuaraan sepakbola remaja sedunia. Begitu kabar Joshua kepada Maria, suatu hari melalui telepon. Mama selalu berdoa bagimu, Josh. Kiranya kau dapat meraih yang terbaik sesuai dengan cita-citamu. Maria hanya dapat mengiringi Joshua dengan doa-doanya. Dia bahkan tidak berani melihat siaran langsung di televisi, karena takut ketegangannya memuncak.

Setelah mendengar bahwa pertandingan sepakbola semalam dimenangkan oleh negaranya, Maria membuka lembaran surat kabar pagi itu. Di bagian olahraga terbaca laporan utama, PENJAGA GAWANG TIM SEPAK BOLA NASIONAL REMAJA BERDOA SEBELUM BERTANDING, DAN MENANG. Tampak foto Joshua yang sedang berlutut di dekat tiang gawang. Mata Maria terasa panas. Perasaannya berkecamuk. Dia hanya memejamkan matanya sambil menengadahkan kepalanya memuji syukur pada Tuhan. Ada perasaan bangga yang mengalir dalam hati Maria. Bangga bukan karena Joshua menggagalkan tendangan penalti regu lawannya. Tetapi bangga karena Joshua berani tampil beda dan tidak malu untuk Tuhannya. 

Vancouver 12 Juli 2006

http://www.airhidup.com/article/kemenangan-untuk-kristus

Senin, 27 April 2015

Berdoa atau Bertindak

Berdoa atau Bertindak

Seorang utusan Injil datang ke gereja Anda dan menyatakan butuh bantuan secepatnya. Apakah Anda akan mendoakannya, atau akan bertindak?

Seorang pendeta muda menyatakan bahwa gereja Anda memerlukan beberapa alat musik baru untuk pelayanan pemuda. Apakah Anda akan mendoakannya, atau akan bertindak?

Sebuah pelayanan misi membutuhkan bantuan Anda di dapur umumnya. Apakah Anda akan mendoakannya, atau akan bertindak?

Doa merupakan media penuh kuasa yang kita miliki untuk mengungkapkan berbagai pergumulan. Melalui doa, kita dapat berbicara atau memohon bimbingan dan pertolongan-Nya secara langsung.

Namun kadangkala kita sendirilah yang merupakan jawaban atas doa kita. Hal itu terjadi manakala kita harus berdoa sekaligus bertindak. Mungkin permintaan utusan Injil tadi dapat Anda tanggapi dengan kesediaan Anda untuk segera pergi membantunya. Barangkali Anda dapat menyumbang sebuah alat musik. Dan siapa tahu, Andalah orang yang dipilih Allah untuk membantu di dapur umum pelayanan misi itu.

Pada abad permulaan, kabar baik tentang Kristus disebarkan oleh orang-orang yang mau keluar dan bertindak. Itulah sebabnya kisah mereka dituturkan dalam kitab Kisah Para Rasul yang dalam bahasa Inggris disebut "The Acts of the Apostles," yang artinya "Tindakan-tindakan Para Rasul," bukan sekadar "Doa Para Rasul."

Kita tidak boleh meremehkan doa karena Dia meminta kita untuk berdoa. Namun perlu disadari bahwa kadangkala kita harus mendukung doa kita dengan tindakan - JDB

"MUNGKIN ANDALAH YANG ALLAH INGINKAN UNTUK MENJADI JAWABAN DOA ANDA SENDIRI"

http://www.airhidup.com/article/berdoa-atau-bertindak

Minggu, 26 April 2015

Panggilan Tuhan Yang Tidak dapat di Tolak

Panggilan Tuhan Yang Tidak dapat di Tolak
by: Ayub Abner Mbuilima
(Kejadian 3:11,12; 4:1-2,10-11).

Apabila kita meneliti bagian-bagian Firman Tuhan di atas, maka terjadi dialog antar Musa dengan TUHAN. Dalam dialog tersebut, TUHAN memanggil Musa untuk menjadi hamba-Nya guna memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Akan tetapi Musa berusaha untuk menolak panggilan TUHAN dalam mewujudkan kehendak TUHAN tersebut. Maka ada tiga alasan yang dipergunakan Musa sebagai senjata untuk menolak :

Pasal 3: 11. Dirinya dipakai sebagai alasan penolakan. ( Tetapi Musa berkaata kepada Allah: Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan Membawa orang Israel keluar dari mesir?).  Namun alasan ini TUHAN patahkan dengan Jawaban-Nya dalam Pasal 3:12 (Lalu firman-Nya: Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.).Pengertian  yang ditangkap dari jawaban TUHAN kepada Musa adalah bahwa ketika engkau melihat dirimu Musa sebagai standart kekuatan/kemampuan untuk menjalankan Tugas panggilan yang Aku embankan kepadamu Musa maka, engaku tidak dapat melakukannya, namun Kekuatan yang menjadi fondasi bagimu Musa dalam menjalankan tanggung jawab panggilan ini adalah PenyertaanKu kepadamu Musa.  Musa melanjutkan dengan menggunakan alasan penolakan yang kedua.
Pasal 4: 1 Alasan kedua. Lingkungan yang akan di tuju, sebagai alasan penolakan. (Lalu sahut Musa: Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu). TUHAN menjawab  musa dalam Pasal 4:2 (TUHAN berfirman kepadanya: Apakah yang di tanganmu itu? Jawab Musa: Tongkat.).  Jawaban Tuhan ini menunjukkan bahwa ketika Musa hadir ditengah-tengah bangsa Israel ada kuasa Allah yang menjadi bukti panggilan dan penugasan Allah bagi Musa dalam menjalankan Misi Allah.  Akan Tetapi alasan ini seakan-akan tidak cukup bagi Musa sehingga ia melanjutkan dengan alasan ketiga:
Pasal 4:10. TUHAN disalahkan, karena tidak menciptakan Musa dengan fasih lidah (Lalu kata Musa kepada TUHAN: Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.). Jawaban TUHAN untuk Musa dalam pasal 4:11 (Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?). Jawaban Tuhan memberikan pengertian bagi Musa bahwa hidup Musa berada dalam kedaulatan dan Kuasa Tuhan sehingga seharusnya tidak ada lagi alasan bagi Musa untuk menyalahkan TUHAN dalam hal ini, serta menolak panggilan TUHAN dalam menjalankan kehendak TUHAN.
Setelah ketiga alasan penolakan Musa dijawab tuntas oleh TUHAN barulah ia berangkat untuk menjalankan kehendak TUHAN.

Pelajaran apa yang perlu dipetik dari perenungan di atas:

Seringkali manusia  memakai alasan kelemahan-kelemahan dirinya maupun orang lain menjadi kekuatan alasan untuk menolak menjalankan panggilan Tuhan dalam tugas yang akan dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.
Alasan apapun yang dipergunakan untuk menolak panggilan Tuhan tidak dapat menggagalkan kehendak dan rencana Tuhan dalam menjalankan Misi-Nya. Sebab Kehendak Tuhan bersifat Mutlak dan kekal.
Keberhasilan dalam menjalankan kehendak Tuhan bukan terletak pada siapa kita, atau sejauhmana kekuatan dan kepintaran kita, namun semuanya terletak kepada Penyertaan dan Kuasa Allah dalam pelayanan Kita.
Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa ketika Panggilan Allah ditujukan kepada kita maka tidak  perlu adanya banyak alasan untuk menolak, namun hanya satu pernyataan yang semestinya keluar dari hati kita melalui mulut kita yaitu Aku siap dan Taat kepada Panggilan Mu TUHAN sebab penyertaan dan kuasanya menjadi jaminan dalam penugasanku untuk mewujudkan misiNYa.

source:
www.airhidup.com

Sabtu, 25 April 2015

Belajar Mengucap Syukur Senantiasa


Belajar Mengucap Syukur Senantiasa

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan didalam Kristus Yesus bagi kamu. I Tesalonika 5:18.

Pada suatu hari 2 orang bersahabat, tatkala melakukan perjalanan dipadang pasir, kehabisan air minum. Betapa sulitnya mencari air dipadang pasir yang jauh dari wadi atau oase.

Dengan segala upayanya kedua orang itu berusaha mencari air pelenyap dahaganya. Akhirnya dengan harga yang sangat mahal mereka dapat membeli setengah gelas air sejuk dari kafilah yang kebetulan lewat padang pasir itu. Hanya setengah gelas air saja, itu berarti terlalu sedikit untuk diminum oleh dua orang. Yang seorang berkata kepada kawannya sungguh sial dapat air hanya sedikit saja, sedangkan yang satu berkata, Puji Tuhan, syukur, sekalipun sedikit kita masih bisa dapat air.

Mengapa ucapan dua orang tersebut mempunyai nada yang berbeda? Sebab orang yang pertama itu melihat pada setengah bagian gelas yang kosong itu. Sedangkan orang yang kedua itu melihat pada setengah bagian gelas yang berisi air itu. Orang pertama berpikir dari segi negatifnya, sedangkan orang kedua berpikir dari segi positifnya. Marilah kita belajar bagaimana orang kedua berpikir, sehingga kita dapat mengucap syukur kepada Tuhan dalam setiap keadaan kita masing-masing.

 source:
www.airhidup.com